Bukan Vaksin, Ini ‘Obat’ Corona yang Siap Dibuat RI

Bukan Vaksin, Ini ‘Obat’ Corona yang Siap Dibuat RI

Akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa Indonesia sedang menyiapkan sejenis ‘obat’ untuk menyembuhkan pasien yang menderita Coronavirus Disease 19 (COVID-19). Menariknya, ini bukan sembarang ‘obat’ karena diambil dari darah pasien COVID-19 yang dinyatakan sembuh untuk diberikan kepada mereka yang masih sakit. Sebenarnya obat apa sih ini?

COVID-19 disebabkan oleh virus yang masih sejenis dengan penyebab SARS 2003 silam. Bedanya virus ini menyebar lebih cepat dan menyebabkan dunia berada dalam pandemi.

Hingga saat ini virus ganas ini sudah menginfeksi lebih dari 2,4 juta orang secara global. Tak kurang dari 165 ribu orang meninggal akibat sistem pernapasannya rusak dirongrong oleh musuh tak kasat mata itu.

Di Indonesia jumlah kasus kumulatif sejak kasus pertama dilaporkan sudah mencapai angka 6.000 lebih dan menduduki ranking dua di klasemen negara dengan jumlah kasus terbanyak se-regional Asia Tenggara setelah Singapura.

Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan jumlah orang yang positif COVID-19 sehari bertambah lebih dari 300 orang dan membuat total kasus di Tanah Air mencapai 6.760 per kemarin (20/4/2020). Sebanyak 590 di antaranya meninggal, 747 dinyatakan sembuh dan sisanya dalam perawatan.

Kendala dalam menangani wabah ini adalah, virus yang menginfeksi manusia kali ini merupakan jenis virus yang baru dan belum dikenali oleh sistem imun tubuh manusia. Sehingga vaksin dan obat belum tersedia.

Penelitian dan pengembangan vaksin dan obat terus dilakukan. Berbagai negara dan perusahaan farmasi global sedang berlomba-lomba menemukan antivirus untuk pandemi dekade ini.
.
Namun penelitian dan pengembangan tersebut membutuhkan dana yang besar, sarana dan fasilitas yang mendukung hingga waktu yang lama. Untuk vaksin bisa dikembangkan butuh waktu bertahun-tahun.

Mengacu pada jurnal ilmiah kenamaan global yakni Nature, vaksin paling cepat bisa dikembangkan dalam kurun waktu 12-18 bulan. Lama juga ya, padahal ini sudah yang paling cepat.

Menunggu vaksin ada keburu pandeminya sudah lewat. Namun vaksin tetap berguna, apalagi ada kemungkinan munculnya gelombang kedua wabah serta potensi menjadi penyakit musiman seperti flu. Artinya vaksinasi tetaplah penting. Saat ini kandidat vaksin paling kuat adalah mRNA-1273 yang dikembangkan oleh Moderna.

Vaksin digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang sehingga, bagi yang divaksinasi ketika terpapar ke penyakitnya langsung sistem imun dalam tubuh sudah siap dan penyakit yang diderita tidak akan parah.

Berbeda dengan vaksin, obat digunakan untuk menyembuhkan orang yang sudah terserang virus. Vaksin lebih bersifat preventif (pencegahan) sementara obat bersifat kuratif (penyembuhan).

Saat ini ada beberapa kandidat obat terkuat yang digunakan untuk menangani pasien COVID-19 mulai dari Remdesivir, Chloroquine, hingga Tamiflu. Untuk saat ini Remdesivir menunjukkan dampak yang lebih efektif terutama di Amerika Serikat.

Namun tetap saja untuk mengembangkan obat tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Harus melalui serangkaian uji klinis yang panjang. Pada tahap uji klinis ini, efektivitas obat benar-benar diuji dengan metode yang ilmiah.

Jika hanya menunggu keduanya ada, korban akan terus berjatuhan dan dampak COVID-19 akan makin parah. Harus ada upaya lain yang dilakukan. Salah satu upaya yang menunjukkan hasil positif adalah dengan memberikan plasma darah pasien COVID-19 yang sembuh kepada mereka yang masih terkapar tak berdaya akibat infeksi virus.

Memangnya ada apa dengan plasma darah pasien yang sembuh? Jawabannya adalah di dalam cairan darah tersebut ada suatu protein yang bernama antibodi. Secara sederhana, antibodi adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi salah satunya untuk menetralkan virus.

Pasien yang sembuh dari COVID-19 akan memproduksi antibodi tersebut dalam jumlah tertentu. Ketika antibodi ini diambil dari orang yang sembuh dan diberikan kepada yang masih sakit, ada harapan antibodi ini akan mampu melawan virus dan menyembuhkan si penderita.

Upaya ini sudah dilakukan di beberapa negara. Di AS contohnya, ahli imunologi dari John Hopkins University, Asturo Casadeval adalah orang yang berperan dalam mengembangkan metode pengobatan ini.

Mengutip situs resmi universitas, Casadeval mengatakan untuk menerapkan pilihan penanganan ini tidak membutuhkan riset dan pengembangan. “ini dapat dilakukan. Namun untuk implementasinya membutuhkan usaha dari organisasi, sumber daya serta orang-orang yang telah sembuh untuk mendonorkan darahnya” katanya.

Menurut Casadeval, metode ini juga termasuk praktis dan bisa dilakukan dalam beberapa minggu. Tekniknya pun tergolong sederhana, hanya mengacu pada standard protokol medis yang melibatkan sample darah pada umumnya. Alat-alatnya pun tersedia di berbagai rumah sakit.


Namun apakah metode ini efektif untuk menyembuhkan pasien COVID-19?

Uji coba yang dilakukan terhadap 10 pasien COVID-19 yang terindikasi parah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Setelah diinjeksi dengan plasma darah yang mengandung antibodi dari orang yang sembuh dari COVID-19, kesepuluh pasien tersebut menunjukkan hilangnya gejala-gejala seperti demam, batuk, sesak napas, hingga nyeri dada dalam waktu tiga hari. Hasil pencitraan CT scan dada pasien juga menunjukkan perbaikan.

Eksperimen ini dilakukan oleh 48 ilmuwan asal Tiongkok yang terafiliasi dengan China National Biotec Group Company Limited dan National Engineering Technology Research Center for Combined Vaccines, Wuhan Institute of Biological Products Co. Ltd.

Hasil dari percobaan para ilmuwan China tersebut dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) dengan judul “Effectiveness of convalescent plasma therapy in severe COVID-19 patients” pada 18 Maret 2020.

Karena hasil yang diperoleh sangatlah menjanjikan, strategi ini rencananya akan dilakukan di Tanah Air. Mengutip CNN Indonesia lembaga biologi molekuler Eijkman sedang bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mengembangkan obat yang digadang-gadang mujarab ini.

Tentu kita semua berharap ‘obat’ ini akan mujarab dan efektif dalam menumpas wabah di dalam negeri. Walau relatif mudah dan praktis dilakukan, metode ini juga masih menyisakan PR yang bersifat teknis yakni dosis dan waktu yang tepat. Mari kita nantikan gebrakan ini dan kabar menggembirakan yang mengiringinya.

Source: CNBC Indonesia

Share this post

Post Comment